Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Bisa Jadi Pembesaran Prostat

Ilustrasi kencing
Sumber :
  • Pixabay

Parenting – Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), gangguan yang dialami sekitar 50% pria berusia di atas 50 tahun dan meningkat hingga 80–90% pada usia 80 tahun ke atas.

Kanker Ginjal Bisa Menyerang Anak, IDAI Ingatkan Orang Tua Deteksi Dini

Karena gejalanya berkembang perlahan, banyak pria menunda pemeriksaan hingga kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari terganggu. Tak jarang, pasien baru datang ketika sudah mengalami komplikasi seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.

Menurut dr. Elita Wibisono, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan, tetapi masih kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

7 Tahun Lawan Kanker, Vidi Aldiano Berpulang: Kisah Cintanya dengan Sheila Dara Bikin Netizen Haru

“Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali,” jelas dr. Elita.

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Akibatnya, pria dapat mengalami pancaran urine melemah, rasa tidak tuntas saat berkemih, hingga urine menetes di akhir buang air kecil yang sering kali dianggap sepele.

Anak Masih Ngompol? Tenang Moms, Begini Cara Tepat Menanganinya Menurut dr. Citra Amelinda, Sp.A

Secara medis, kondisi sering terbangun di malam hari untuk berkemih dikenal sebagai nokturia. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan. “Bayangkan jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam untuk ke toilet. Kualitas tidurnya akan terganggu, tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut terdampak,” ujarnya.

Lebih jauh, dr. Elita menekankan bahwa dampak pembesaran prostat tidak berhenti pada gangguan fisik. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan pasangan. Gangguan tidur kronis akibat sering buang air kecil pada malam hari tidak hanya dirasakan pasien, tetapi juga pasangan yang tidur di sampingnya. Selain itu, rasa frustasi akibat gangguan berkemih dapat mempengaruhi suasana hati, menurunkan rasa percaya diri, sehingga berdampak pada kedekatan dengan pasangan.

Halaman Selanjutnya
img_title