Jangan Dianggap Sepele! 3 Kebiasaan Ini Bisa Jadi Tanda Gangguan Napas pada Anak
- Magnific.com
Parenting – Banyak orang tua mengira kebiasaan kecil saat anak tidur hanyalah hal biasa. Padahal, beberapa tanda yang tampak sepele justru bisa menjadi sinyal adanya gangguan pernapasan dan perkembangan pada anak. Para ahli menekankan bahwa manusia secara alami seharusnya bernapas melalui hidung (nose breathing), bukan mulut. Namun, tanpa disadari, banyak anak yang terbiasa bernapas lewat mulut (mouth breathing), terutama saat tidur.
Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat berdampak pada kesehatan gigi, struktur rahang, hingga kualitas tidur anak. Berikut tiga gejala yang perlu diwaspadai orang tua:
1. Anak Tidur Mendengkur (Ngorok)
Banyak orang tua menganggap anak yang mendengkur berarti tidurnya lelap. Padahal, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), mendengkur pada anak bisa menjadi tanda gangguan pernapasan saat tidur, seperti obstructive sleep apnea. Kondisi ini bisa memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, hingga pertumbuhan anak jika tidak ditangani dengan tepat.
2. Menggemeretakkan Gigi Saat Tidur (Bruxism)
Suara “krek-krek” saat anak tidur sering dikaitkan dengan stres. Namun, para ahli menyebutkan bahwa bruxism pada anak juga bisa berkaitan dengan gangguan pernapasan atau posisi rahang yang tidak ideal.
Penelitian dalam Journal of Oral Rehabilitation menunjukkan bahwa kebiasaan ini sering ditemukan pada anak dengan masalah airway (saluran napas), terutama yang terbiasa bernapas melalui mulut.
3. Posisi Mulut Terbuka Saat Diam (Mouth Breathing)
Jika anak sering terlihat bernapas melalui mulut, baik saat tidur maupun saat sedang santai ini menjadi tanda penting yang perlu diperhatikan.
Menurut Dr. John Mew, pakar orthotropics, kebiasaan mouth breathing dapat memengaruhi perkembangan struktur wajah dan rahang. Anak yang terbiasa bernapas lewat mulut cenderung memiliki rahang lebih kecil, gigi berjejal, bahkan risiko gangguan pertumbuhan wajah.
Selain itu, bernapas melalui mulut membuat mulut menjadi kering. Kondisi ini dapat menurunkan produksi saliva, yang berfungsi melindungi gigi dari bakteri. Akibatnya, risiko gigi berlubang pun meningkat.
Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai
Jika kebiasaan ini tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa semakin kompleks seiring bertambahnya usia. Mulai dari susunan gigi yang tidak rapi, rahang sempit, hingga gangguan pernapasan yang lebih serius.