Osteoporosis Bisa Dialami Anak-anak, IDAI Ingatkan Masyarakat Aware

Ilustrasi Osteoporosis pada anak
Sumber :
  • Freepik.com

Parenting – Gangguan perkembangan tulang pada anak merupakan kondisi di mana proses pertumbuhan dan pematangan tulang tidak berlangsung secara normal. Sehingga dapat memengaruhi bentuk, ukuran, maupun kekuatan tulang.

IDAI Ingatkan Risiko Distribusi Susu Formula Massal, Tegaskan ASI dan Pangan Lokal Kunci Cegah Stunting

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk aware/ peduli terhadap penyakit osteoporosis yang bisa dialami anak-anak, tidak hanya orang dewasa maupun Lansia. Berbeda dengan osteoporosis pada lansia ketika kepadatan tulang menurun, osteoporosis pada anak terjadi ketika ada patah tulang punggung atau tulang panjang.

“Proses pertumbuhan tulang sangat bergantung pada interaksi kompleks antara faktor genetik, hormonal, nutrisi, serta aktivitas fisik. Osteoporosis pada anak seringkali disebabkan oleh kelainan genetik. Utamanya, kelainan Osteogenesis Imperfecta (OI) yang menyebabkan tulang sangat rapuh dan mudah patah secara spontan,” ujar Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI, Frieda Susanti, dalam seminar media secara Virtual dengan topik ‘Gangguan Perkembangan Tulang pada Anak’, Selasa (21/10/25).

Waspada! Ini Gejala Monkey Malaria yang Sering Tak Disadari

Ia mengatakan, seorang anak berisiko mengidap OI jika memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama. Meski begitu, pengamatan klinis tetap diperlukan untuk memastikan hal tersebut. Pengamatan dapat dimulai sejak dalam kandungan, menggunakan USG atau ketika bayi lahir dengan melihat tanda-tanda tulang bengkok.

"Kami di Divisi Endokrinologi Departemen Ilmu Kesahatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sedang merawat 203 anak dengan osteogenesis imperfecta. Angkanya jauh meningkat dibandingkan kira-kira lima tahun lalu," tambah Frieda.

IDAI Paparkan Dampak El Nino pada Kesehatan Anak, Orang Tua Wajib Waspada

Di samping itu, lanjutnya, osteoporosis pada anak bisa disebabkan oleh penyakit tertentu atau disebut osteoporosis sekunder. Biasanya hal ini terjadi pada anak penderita leukemia, rheumatoid arthritis, gagal hati, dan anak dengan kelainan endokrin, misalnya terlambat pubertas.

Selain itu, osteoporosis sekunder terjadi pada anak-anak yang menggunakan steroid. Umumnya, penggunaan steroid pada anak dilakukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Frieda pun mengajak orang tua untuk mewaspadai kelainan tulang pada anak.

“Tanda-tanda yang perlu dicurigai mencakup tulang bengkok, tulang pendek dan patah, serta anak sulit berjalan atau cara jalannya salah. Anak yang menunjukkan tanda-tanda ini perlu dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan terapi,” pungkasnya.