Dampak KLB Campak Sumenep, Menkes Targetkan 70 Ribu Anak Diimunisasi dalam Dua Minggu

Menkes Budi Gunadi berkunjung ke Sumenep
Sumber :
  • Dok Kemenkes

Parenting – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan sebanyak 70 ribu anak di Sumenep, Jawa Timur mendapatkan imunisasi massal campak. Pasalnya, saat ini, wilayah dengan jumlah penduduk 1,14 juta jiwa tersebut sedang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB). Campak juga bisa menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi 

Vaksinasi Campak Aman dan Penting: Meluruskan Hoaks yang Meresahkan Orang Tua

"Yang kita lakukan, nomor satu, kita melakukan surveillance yang lebih ketat," ujarnya, dikutip dari laman kemenkes.go.id.

 

Kenali Penyebab dan Gejala Campak yang Kini Berstatus Kejadian Luar Biasa di Sumenep

Sebanyak 20 anak meninggal dunia di Sumenep akibat campak. Data ini merupakan angka kumulatif kematian sejak Februari hingga Agustus 2025. Data ini menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan, khususnya dengan menggalakkan imunisasi massal. 

 

Kenali Komplikasi Bayi Prematur yang Bisa Terjadi

Budi Gunadi menyebut, penyakit campak saat ini menjadi ancaman serius dan disebut-sebut sebagai salah satu penyakit yang paling menular. 

 

"Campak itu satu orang bisa menularkan ke 18. Jadi memang penyakit ini yang paling menular," katanya.

 

Meskipun tingkat penularannya tinggi, Menkes Budi menyebut campak bisa dicegah dengan vaksin yang sangat efektif. 

 

"Untungnya, sudah ada vaksinnya dan vaksinnya itu efektif. Jadi kalau divaksinasi, pasti dia tidak akan kena penyakit campak lagi," jelasnya.

 

Campak, lanjut Menkes Budi, bisa menyebabkan kematian, dengan tingkat kematian yang lumayan tinggi, sehingga tidak boleh dianggap remeh.

 

Ia mengimbau agar masyarakat, tenaga kesehatan, hingga aparat seperti Babinsa dan Kantibmas, proaktif mengenali gejala campak seperti demam dan ruam pada anak-anak.

 

Lebih lanjut, dengan total 20 anak meninggal, Budi Gunadi berharap tidak ada lagi korban jiwa. Ia juga mengingatkan bahaya hoaks yang menghambat imunisasi. 

 

"Yang meninggal sudah 20. Dan kita harapkan dalam 2 minggu ke depan (kasus meninggal) berhenti di sana dan tidak naik," katanya.

 

“Sekarang juga banyak berita-berita WhatsApp mengenai jangan imunisasi, jangan vaksinasi. Teman-teman, itu sangat berbahaya dan jahat. Karena kita lihat sampai meninggal 20 anak, hanya gara-gara masyarakat diteror berita-berita itu,” pungkasnya.