Vaksinasi Campak Aman dan Penting: Meluruskan Hoaks yang Meresahkan Orang Tua

Ilustrasi Vaksin, Jarum Suntik
Sumber :
  • Pixabay/ Klaus Hausman

Parenting – Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Edi Hartoyo membantah anggapan yang beredar di media sosial, bahwa vaksinasi campak bisa menimbulkan kecacatan pada anak.

Moms, Jangan Salah Langkah! Bedakan Mitos dan Fakta MPASI Menurut IDAI

Ia menyebut, vaksin campak berisi virus campak yang sudah dilemahkan sehingga ia tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan infeksi berat pada orang yang diberikan vaksin. Vaksin berisi virus campak itu,  justru bisa merangsang sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

 

Lebih Menular dari COVID-19, IDAI Ingatkan Pentingnya Imunisasi Campak pada Anak

"Hoaks atau tidak benar (vaksinasi campak) menimbulkan kecacatan. Justru risiko terhadap aktivasi (penyakit) sangat kecil karena virus dilemahkan, otomatis ia tidak virulen, tidak bisa menyebabkan rangsangan penyakit pada orang diimunisasi," ujarnya, dalam Seminar Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak pada Anak dan Update Rekomendasi Vaksinasi IDAI, secara daring, Rabu, 27 Agustus 2025.

 

Kenali Penyebab dan Gejala Campak yang Kini Berstatus Kejadian Luar Biasa di Sumenep

Sementara itu, Satgas Imunisasi IDAI  dr. Hartono Gunardi menjelaskan, pada beberapa orang, vaksin campak bisa memberikan efek seperti demam, namun dalam kategori ringan dan dapat sembuh sendiri.

 

Statistik menyebutkan hanya 5 sampai 15 persen anak yang diimunisasi mengalami demam, atau hanya 5 dari 100 anak yang diimunisasi. Efek samping lainnya setelah vaksinasi adalah ruam, namun hanya 2 persen yang mengalami atau 2 dari 100 anak yang diimunisasi.

 

Dahulu, dia menerangkan, sebuah penelitian yang kini dilabeli hoaks, menyebutkan vaksin campak, gondongan dan rubela dapat menyebabkan autisme.

 

Namun, setelah diselidiki, penelitian tersebut hanya dilakukan kepada 12 anak yang diundang ke pesta ulang tahun sang peneliti. Penelitian tersebut sudah ditarik dan dokter yang meneliti dilarang praktik.

 

Hartono menegaskan kini seluruh negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah melaksanakan imunisasi campak dan rubela MR.

 

"Kelalaian imunisasi malah menimbulkan wabah," tutupnya.