Kenali Gejala, Penyebab, Risiko hingga Dampak Buruk Trauma Melahirkan

Ilustrasi Melahirkan
Sumber :
  • freepik.com

Parenting – Trauma melahirkan adalah kondisi mental yang tidak stabil akibat pengalaman melahirkan yang menakutkan, menyakitkan, atau menimbulkan perasaan negatif lainnya. Contohnya yakni durasi persalinan yang terlalu lama, perasaan diabaikan oleh orang di sekitar, komplikasi persalinan, atau hal lain yang memicu kekhawatiran berlebihan selama melahirkan.

Moms, Jangan Lewatkan Golden Hour! Satu Jam Pertama Setelah Melahirkan Bisa Berdampak Besar bagi Ibu dan Bayi

Dikutip dari hellosehat.com trauma melahirkan atau yang juga disebut postpartum post-traumatic stress disorder (PTSD) bisa menimbulkan gejala yang beragam, berikut adalah beberapa di antaranya.

• Mengalami kilas balik (flashback) atau mimpi buruk terkait peristiwa trauma secara berulang.

Jangan Salah Pilih! Ini Cara Agar Bayi Bebas Ruam Popok

• Perasaan takut dan tidak berdaya setiap kali mengingat pengalaman persalinan.

• Kesulitan atau bahkan tidak bisa mengingat sama sekali proses persalinan.

Moms Wajib Tahu! Jika Kondisi Memungkinkan, Lahiran Pervaginam (Normal) Ternyata Punya Banyak Manfaat untuk Bayi dan Ibu

• Menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan proses melahirkan, seperti dokter dan rumah sakit.

• Kesulitan tidur, konsentrasi, atau mengingat sesuatu.

• Bereaksi berlebihan terhadap suara atau sentuhan.

• Merasa sangat waspada atau hipervigilensi.

• Merasa bersalah, sedih, atau malu atas pengalaman persalinannya.

Karena berbagai kondisi tersebut, postpartum PTSD mungkin juga menimbulkan gejala fisik, seperti sakit perut atau sakit kepala.

Apa Penyebab Trauma Melahirkan?

Secara umum, postpartum PTSD bisa disebabkan oleh kejadian traumatis yang terjadi sebelum, selama, atau sesaat setelah melahirkan.

Melansir laman Postpartum Depression, berikut adalah beberapa kejadian yang diyakini bisa memicu trauma melahirkan.

• Persalinan memakan waktu terlalu lama, sulit, dan menyakitkan.

• Penggunaan alat bantu persalinan, seperti forceps atau ekstraksi vakum.

• Menjalani prosedur operasi caesar darurat karena persalinan normal mengalami hambatan.

• Mengalami histerektomi, preeklampsia, eklampsia, robekan perineum (area antara vagian dan anus) yang parah, atau perdarahan postpartum.

• Kematian bayi saat atau setelah melahirkan.

• Bayi mengalami kondisi medis tertentu yang membahayakan, seperti asfiksia, infeksi, atau gangguan tali pusat.

• Bayi berada di unit perawatan intensif neonatal atau neonatal intensive care unit (NICU).

• Ibu merasa kurang mendapat dukungan selama persalinan.

Trauma mungkin juga muncul ketika proses melahirkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karena itulah, penting untuk membicarakan metode persalinan dengan dokter kandungan. Apa pun metode persalinan yang dipilih, dokter akan mengutamakan keselamatan ibu dan janin.

Halaman Selanjutnya
img_title