Ibu Menyusui Ingin Puasa Ramadan? Perhatikan 2 Syarat Penting Ini
- Freepik.com
Parenting – Setiap Ramadan datang, pertanyaan ini hampir selalu muncul di grup ibu-ibu “Kalau lagi menyusui, boleh enggak sih puasa?” Pastinya para Moms ingin menjalankan ibadah dengan maksimal, tapi juga takut dan ragu jika produksi ASI terganggu. Rasa bersalah kalau batal puasa ada, tapi rasa khawatir ke bayi juga lebih besar.
Ternyata, jawabannya tidak hitam putih lho Moms. Semua ada syarat yang Moms perlu diperhatikan.
Ibu Menyusui Boleh Puasa, Asal…
Menurut dr. Reni Fahriana, SpA, ibu menyusui boleh berpuasa dengan beberapa ketentuan. Pertama, kondisi ibu harus sehat. Artinya tidak sedang sakit, tidak memiliki penyakit tertentu, dan produksi ASI dalam keadaan cukup. Yang kedua, kondisi bayi juga harus sehat. Berat badan sesuai kurva pertumbuhan dan tidak sedang sakit.
“Pada umumnya, ibu menyusui boleh berpuasa ketika bayinya sudah berusia 6 bulan atau lebih, saat sudah diperkenalkan MPASI,” jelas dr. Reni.
Di usia ini, bayi sudah mulai mendapat asupan tambahan dari makanan pendamping ASI, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada ASI sebagai satu-satunya sumber nutrisi.
Bagaimana Jika Bayi Masih 0–6 Bulan?
Untuk Moms dengan bayi usia 0–6 bulan, puasa tetap diperbolehkan dengan dua syarat utama tadi yakni ibu sehat dan bayi sehat. Namun, ada hal penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu tanda-tanda dehidrasi pada bayi.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Bayi terlihat lemas
- Rewel terus-menerus
- Tampak sangat haus
- Suhu tubuh meningkat atau demam
- Frekuensi buang air kecil berkurang
Jika tanda-tanda ini muncul saat Moms berpuasa, itu bisa menjadi indikasi dehidrasi. Dalam kondisi seperti ini, Moms diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk membatalkan puasa demi kesehatan bayi.
Pendapat ini juga sejalan dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang menyebutkan bahwa keputusan ibu menyusui untuk berpuasa sebaiknya mempertimbangkan kondisi ibu dan bayi secara individual. IDAI menekankan pentingnya pemantauan berat badan bayi, frekuensi BAK, serta tanda kecukupan ASI selama Ramadan.
Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyarankan agar bayi usia 0–6 bulan mendapatkan ASI eksklusif secara optimal. Jika puasa berpotensi mengganggu kecukupan ASI atau kondisi bayi, maka kesehatan tetap menjadi prioritas utama.