Niatnya Sayang, Tapi Kok Jadi People Pleasing ke Anak?
- Freepik.com
Parenting – People pleasing pada orang tua dapat membuat anak sulit mengatur emosi dan kurang mandiri. Kenali dampaknya dan cara membangun batas sehat dalam pengasuhan.
People Pleasing yang Berpindah, Dari Orang Tua ke Anak
“Yang penting anaknya bahagia” sering jadi prinsip banyak orang tua modern. Masalahnya, kalau semua keinginan anak dituruti, orang tua lambat laun bisa bergeser dari pengasuh menjadi “penyenang”.
Contohnya:
- Anak mau mainan, langsung dibelikan.
- Anak nangis, langsung dituruti.
- Anak nggak mau disuruh berhenti main, malah orang tua mengalah.
Lama-lama, tanpa sadar orang tua selalu berusaha menghindari konflik kecil dengan anak, padahal konflik sehat justru bagian dari proses tumbuh kembang.
Dampak pada Anak Menurut Psikologi Perkembangan
Dilansir dari Segrin, C., Woszidlo, A., Givertz, M., & Montgomery, N. (2013). Overparenting is associated with child problems and a lower quality parent–child relationship. Journal of Child and Family Studies, kebiasaan orang tua yang terus-menerus menuruti anak dapat membentuk pola perilaku sebagai berikut:
a. Sulit Mengatur Emosi
Karena anak jarang merasakan “ditolak”, ketika ia akhirnya menghadapi batasan (di rumah orang lain, di sekolah, di dunia nyata), ia bingung harus bagaimana. Frustrasi muncul lebih cepat.
b. Gampang Frustasi kalau Tidak Dapat yang Diinginkan
Anak jadi tidak terbiasa menunggu, menunda kesenangan, atau menghadapi rasa kecewa. Padahal kemampuan menunda keinginan (delayed gratification) adalah salah satu fondasi penting kecerdasan emosional.
c. Pola Pikir “Semua Keinginanku Harus Dipenuhi”
Ini yang bahaya. Anak bisa menyimpulkan bahwa dunia memang berputar untuk dirinya. Jika terbawa sampai remaja atau dewasa, ia bisa tumbuh menjadi pribadi entitled, merasa semuanya harus mengikuti keinginannya.
Dampaknya untuk Orang Tua: Emosional Lelah Tanpa Sadar
Tidak hanya anak yang terdampak. Orang tua juga terbawa arus. Riset menunjukkan bahwa orang tua yang terlalu overinvolved atau terlalu ikut campur (overparenting) sering mengalami stres lebih tinggi, kesulitan mengambil keputusan, merasa gagal ketika anak sedih dan merasa harus selalu membuat anak bahagia.